Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2011

Kuasa Tuhan

Kamu tahu,
sesuatu yang melebihi logika berpikir kita,
melampaui segala target dan rencana kita yang begitu terperinci,
usaha: tenaga dan pikiran, yang dirasa maksimal,
selalu memiliki ruang untuk yang namanya kuasa Tuhan *Allahuakbar*

Apa yang mulanya kita pandang sempurna, menjadi semacam bumerang..
semacam pertanyaan yang kembali kepada kita sendiri:
apa itu kesempurnaan?
seberapa pasti ukurannya?

Apa yang mulanya kita nilai sempurna berdasarkan himpunan ilmu pengetahuan yang terekam di dalam otak kita bisa jadi sebaliknya dalam penilaian Tuhan sehingga ia menurunkan kuasa-Nya. Seberapalah ilmu kita yang diberikan Sang Maha Kuasa..

Jika Rumi mengatakan bahwa, "Tuhan bekerja secara misterius" mungkin saya lebih suka menyebutnya pengetahuan kitalah yang masih terbatas untuk memahami rencana dan kehendak-Nya. Kita perlu menyelami lebih dalam lautan ilmu-Nya untuk setidaknya mengerti hikmah yang terkandung di dalamnya.

Kita, tetaplah pada rencana-rencana baik kita. Fokus pada eksekusinya yang sejalan. Tentunya tidak keluar dari harapan-Nya. Selebihnya, kita berdoa memohonkan yang terbaik, yang tepat untuk diri kita berdasarkan pengetahuan-Nya.

Siapalah yang bisa menandingi-Nya..

Jumat, 17 Desember 2010

"Sampai Kapan?"

Alhamdulillah,
Thanks God it's Friday and it's *maybe* holiday..(ngareep..)

Hmm... senangnya kalo peer-peer dah pada beres dan dari pagi bisa browsing sana sini, trus bisa posting lagi... :D

Beberapa waktu lalu, terbersit sebuah pertanyaan sederhana: "Sampai kapan?"
Pemicunya juga sederhana, hanya dari sebuah obrolan ringan yang saya sama sekali tidak terlibat di dalamnya. Obrolan para orang tua. Bukan maksud menguping, tapi memang mau tidak mau jadi ikut mendengar karena saya duduk dekat dengan mereka. Salah seorang ibu bercerita bahwa ia selalu mengantar anaknya, kelas 3 SD, ke SD yang tidak jauh dari rumahnya. Ibu yang lain bertanya yang isinya kira-kira begini, "Sampai kapan kamu mau nganterin anakmu?" Yah, begitulah pembicaraan sempat membuat sedikit perdebatan. Si ibu memberikan alasan bahwa anaknya yang dianggap masih kecil itu harus menyeberang jalan raya yang ramai sehingga masih perlu dijaga. Ibu yang bertanya menimpali, "Kan masih bisa diajarin to Bu..biar mandiri.."
Begitulah, percakapan berlanjut terus dan topiknya malah melebar. Saya tidak akan membahasnya lebih jauh.

Pertanyaan "Sampai kapan?" *tidak perlu sampai ke ujung kalimatnya* itu mengusik saya. Menimbulkan berbagai pertanyaan kepada diri saya. Pertanyaan tentang masa yang saya jalani selama ini. Sebutlah kehidupan yang membaikkan itu adalah kualitas kehidupan seseorang pada hari ini lebih baik dari hari kemaren, hari esok jauh lebih baik dari hari ini. Ah, saya rasa saya masih pontang panting untuk bisa seperti ini. Kadang masih terlena dengan kebiasaan yang buruk, sia-sia, dan tidak bermanfaat.
Misalnya, seperti ini:
Saya sering menunda-nunda tugas dan baru mengerjakannya menjelang deadline. Padahal di satu sisi, saya tahu itu bahwa itu tidak baik, bikin stress, bikin kurus, kualitas hasilnya tidak sebaik yang diharapkan. Tapi, di kemudian hari terulang lagi.
Lalu, bagian dari superego saya bertanya seperti ini: "Mau sampai kapan menunda-nunda tugasnya?"
Ego saya menjawab: :"Tapi, kan selesai tepat waktu juga. Baru bisa mikir kalo dah deket deadline *gak beres....jangan diikuti yaah :p*

Reaksi ego saya memberikan excuse atas perilaku saya. Mungkin itu yang menyebabkan saya mengulanginya lagi dan lagi. Membayangkan itu saya jadi senyum simpul sendiri. Pertanyaan itu sebenarnya membuat saya berpikir lebih jauh. Saat ini mungkin saya bisa melewatinya dengan kebiasaan saya itu, tapi nanti bagaimana? Toh, semakin bertambah umur saya, tuntutan hidup pun berbeda dan semakin beragam. Bukan tidak mungkin beban tugas semakin banyak. Apakah saya bisa bertahan dengan perilaku saya itu?

Di sisi lain, saya juga bermimpi punya kehidupan yang sukses, keluarga yang bahagia, seimbang, dan bisa berkontribusi ke masyarakat. Oh, mungkin kalau saya mau terus-terusan seperti itu, yah jangan menuntut terlalu banyak dalam hidup. Terima saja, kalau hidup saya nanti pas-pasan. Terima saja, tidak perlu iri kalau nanti teman-teman terdekat saya bisa sukses jaya gemilang. Terima saja, kalau nanti kerjaan saya itu mungkin monoton, tidak menarik dan tidak menantang. Wahhh, kira-kira saya mau nggak ya seperti itu?"

Hmm... lalu superego saya bertanya lagi, "Mau sampai kapan ber-excuse terus?" 6(o.0)"

Pertanyaan-pertanyaan "Sampai kapan?" itu hanya pemicu. Sekedar pertanyaan awal untuk merefleksi hidup, berpikir lebih jauh, mengusik keadaan kita yang terlena. Selebihnya, diri kita yang akan menjawab dan bertanya ini-itu kembali. Tapi, saya rasa tidak baik juga kalo hal itu membuat kita terlalu lama berkutat dalam pikiran, arahnya kemana-mana dan tidak punya tujuan jelas. Sisi subjektif saya ingin pertanyaan ini menjadi titik mula untuk dapat bertindak lebih matang.

Yah, begitulah... dari semua hal yang saya tuangkan sampai sini, jadi tercetus lagi pertanyaan "Jadi, apa paling penting dalam hidup ini? Apa yang paling penting untuk dicapai?" Hehe.. mudah-mudahan bisa menjadi penguat agar bisa sampai pada perilaku nyata.

Senin, 15 Maret 2010

Anak-Anak Legenda

18.45, kamar 29, Depok.

Saya kelelahan dan sempat terkapar selama beberapa menit setelah pulang dari kampus. Serangan flu yang semakin mewabah akhir-akhir ini membuat saya merindukan kasur dan selimut hangat. Ketika pada akhirnya, guyuran air “menghidupkan” saya kembali. Kemudian, saya segera menyeduh teh hijau dengan harapan virus flu ini tidak akan betah berlama-lama singgah di tubuh dan saya bisa tetap “hidup”.. ^^,v

Sambil memainkan sendok di dalam gelas yang mengepul, mata saya menangkap bentuk tulisan menarik: “Negeri 5 Menara”. Tercetak begitu manis di sisi tebal bukunya. Seketika itu, terlintas dalam pikiran saya: “Anak-anak legenda”.
Ya, “Anak-anak legenda”, begitulah yang terlintas. Apa yang membuat seseorang, sesuatu, atau kelompok pantas berada dalam suatu kisah, khususnya novel? Kalau lebih dikhususkan lagi novel "best seller" yang dipuja-puji karena inspiratif,sarat makna, dan diilhami dari kisah nyata—mulanya dari novel.

Kenapa saya menyebut mereka anak-anak legenda? Terlintas dalam benak, ketika saya ingat bagian cerita “It’s Show Time” dalam “Negeri 5 Menara” kemudian parade karnaval eksotis—saya tak ingat subjudulnya—di Laskar Pelangi.
Mereka mencipta sesuatu yang berbeda. Fenomenal dan tidak biasa. Sesuatu yang huge, extraordinary, magnificent. Di mana semua mata secara alami tertuju padanya dan decak kagum yang keluar begitu spontan—kadang-kadang saya berpikir: apakah saya yang terlalu imajinatif dalam membayangkan bagian cerita itu ya??.

Hal yang saya suka adalah mereka bekerja keras dengan tetap berupaya penuh memelihara keyakinan mereka. Bagaimanapun, menjaga keyakinan agar tetap kokoh itu memang banyak godaannya. Hal kedua yang saya suka, selalu ada orang-orang berjasa di belakang mereka. Ada sosok karakter kuat yang juga mengilhami mereka. Mereka sebenar-benarnya tidak pernah berjalan sendirian. Hal ketiga, mereka selayaknya manusia.

Dalam kisah-kisah yang sudah saya telan bulat-bulat, para tokoh menemui “celanya” masing-masing sebagai manusia. Mereka memiliki kelemahan. Mereka juga merasakan takut. Berbagai macam perasaan takut akibat persoalan hidup yang nampaknya juga kita jumpai dalam masing-masing hidup kita. Takut akan kegagalan, takut akan penolakan, takut akan dihukum, takut melanggar norma/adat, dan yang lainnya. Mereka pernah jatuh—cermati kata “pernah”—gagal, merasakan kesedihan yang juga mengarah pada depresi dan kepesimisan. Mereka kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintai.

Hanya dengan mengingat kisah-kisah kecil itu mungkin berlebihan rasanya untuk sampai pada sebuah kata “legenda”. Ya, betul! Maka kemudian, hal tersebut mengantarkan saya pada ingatan biografi Malcolm X, Nelson Mandela, dan beberapa tokoh besar berjasa lainnya—yang tak mungkin saya jabarkan semuanya di sini karena bukan itu intinya. Tentu saja mereka tidak—atau hanya—membuat pentas yang fenomenal seperti yang tadi-tadi.

Mereka mencipta peristiwa, penggerak perubahan. Untuk lebih mendramatisirnya: Mereka membuat suatu gebrakan fenomenal—yang nampaknya bisa berdampak sistemik. Hal yang menguatkan ketiga kata positif tadi—¬huge, extraordinary, magnificent—adalah mereka melakukannya lebih dari sekedar menciptakan kejayaan diri. Akan tetapi, untuk orang lain, kelompok, bangsa, negara, dan agama. Sesuatu yang melampui ego mereka. Sesuatu yang menyelusup ke dalam kepala dan relung-relung hati umat manusia.

Dan sesuatu itu berarti, bahkan sangat berarti, sehingga patut berada dalam hati banyak orang dalam waktu yang sangat lama yang kemudian menular pada generasi di bawah mereka hingga seterusnya. Yang ketika mereka membicarakannya, mereka akan kagum. Akan lebih baik jika mereka memiliki kesadaran untuk berterima kasih. Lebih jauhnya, mereka akan menunjukkan sikap menghargai. Legenda itu adalah inspirasi, bagian yang membentuk filosofi dan tindakan mereka. Kemudian, bukan tidak mungkin legenda baru akan muncul dan membentuk siklus yang sama.

Tokoh-tokoh dalam kisah—dari yang saya sebutkan—membangun legenda mereka. Peluh, air mata, cinta, keyakinan, usaha keras, dan tentu saja keputusan Tuhan adalah material berharga pembangunnya.

Maka legenda bermula dari semua hal yang telah saya sebutkan di atas. Dan, dalam hal ini, legenda itu nyata.